Tabir Sakral Alas Kedaton dan Tanah Lot Terungkap di Program “We Love Bali” Kemenparekraf

KABUPATEN TABANAN – Anda pasti tahu Alas Kedaton dan Tanah Lot. Ya, destinasi wisata religi, alam dan budaya ini terletak di Kabupaten Tabanan, Bali. Keduanya menawarkan sensasi kesakralan pura sebagai tempat persembahyangan umat Hindu Bali. Meski dikenal sebagai habitat Kera, faktanya Alas Kedaton juga menawarkan wisata religi. Betapa tidak, di tengah Hutan Alas Kedaton yang rimbun, terdapat sebuah pura yang cukup megah.

Pura Alas Kedaton adalah sebuah pura Hindu yang sakral peninggalan dari zaman megalitikum kuno di Pulau Bali. Pura Alas Kedaton terletak di tengah-tengah hutan kera Alas Kedaton, tepatnya di Desa Kukuh, Kecamatan Marga. Pura Dalem Kahyangan Kedaton terletak sekitar 35 kilometer dari Kota Denpasar.

Pura Alas Kedaton dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakertha pada masa pemerintahan Raja Sri Masula Masuli di Pulau Dewata. Menurut prasasti Desa Sading, Mengwi, Kabupaten Badung menyebutkan bahwa Raja Sri Masula Masuli mulai memerintah di Pulau Bali pada tahun Saka 1100 (1178 Masehi).

Prasasti tersebut memakai tahun Saka 1172 (1250 Masehi) yang juga menyebutkan bahwa Raja Sri Masula Masuli berkuasa di pulau Bali selama 77 tahun, yang berarti pemerintahannya berakhir pada tahun Saka 1177 atau 1255 Masehi.

Posisi Pura Alas Kedaton menghadap ke barat dan memiliki empat pintu gerbang sebagai pintu masuk dan keluar, pura ini memiliki halaman yang unik, pada posisi halaman dalam/utama (di Bali disebut Jeroan atau Utama Mandala) lebih rendah dari halaman tengah (di Bali disebut Jaba atau Madya Mandala), tidak seperti pura-pura lain di Bali yang biasanya memiliki halaman dalam atau utama yang lebih tinggi dari halaman tengah. Pura Alas Kedaton terletak di tengah hutan yang dihuni oleh ribuan kera atau monyet dan ratusan kelelawar besar (kalong). Kera di Hutan Kedaton sangat ramah dan sangat dekat dengan pengunjung karena mereka selalu memberinya makan dengan kacang-kacangan dan makanan ringan lainnya.

Selain Pura Alas Kedaton, yang tak kalah sakral Pura Tanah Lot. Pura ini amat disucikan oleh umat Hindu Bali. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam. Sejarah Pura Tanah Lot Bali Indonesia berdasarkan legenda, dikisahkan pada abad ke -15, Bhagawan Dang Nirartha atau dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra melakukan misi penyebaran agama Hindu dari Pulau Jawa ke Pulau Bali.

Pada saat itu yang berkuasa di Pulau Bali adalah Raja Dalem Waturenggong. Raja Dalem Waturenggong sangat menyambut baik kedatangan Dang Hyang Nirartha dalam menjalankan misinya, sehingga penyebaran agama Hindu berhasil sampai ke pelosok-pelosok desa yang ada di Pulau Bali. Dalam sejarah Tanah Lot, dikisahkan Dang Hyang Nirartha, melihat sinar suci dari arah laut selatan Bali. Maka Dang Hyang Nirartha mencari lokasi dari sinar tersebut dan tibalah ia di sebuah pantai di desa yang bernama desa Beraban Tabanan.

Pada saat itu, Desa Beraban dipimpin oleh Bendesa Beraban Sakti yang sangat menentang ajaran dari Dang Hyang Nirartha dalam menyebarkan agama Hindu. Bendesa Beraban Sakti menganut aliran monotheisme. Dang Hyang Nirartha melakukan meditasi di atas batu karang yang menyerupai bentuk burung beo yang pada awalnya berada di daratan. Dengan berbagai cara Bendesa Beraban ingin mengusir keberadaan Dang Hyang Nirartha dari tempat meditasinya.

Menurut sejarah, Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat bermeditasinya) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot yang artinya batu karang yang berada di tengah lautan. Semenjak peristiwa itu Bendesa Beraban Sakti mengakui kesaktian yang dimiliki Dang Hyang Nirartha dengan menjadi pengikutnya untuk memeluk agama Hindu bersama dengan seluruh penduduk setempat.

Eksplorasi sisi spiritual Pura Alas Kedaton dan Pura Tanah Lot dilakukan pada program “We Love Bali” yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) pada 5-9 Desember 2020.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani menuturkan, program “We Love Bali” dirancang dalam kerangka pemulihan pariwisata di Pulau Dewata. Sebagaimana diketahui, pandemi COVID-19 meruntuhkan pariwisata di Pulau Seribu Pura. Sebagai penyumbang devisa terbesar untuk sektor pariwisata, Bali tak kuasa menahan hantaman laju Virus Corona. “Memasuki era adaptasi kebiasaan baru, Kemenparekraf/Baparekraf berupaya membangkitkan kembali sektor pariwisata Bali yang terdampak COVID-19 melalui program “We Love Bali” ini,” kata Rizki.

Tak hanya sekadar melakukan promosi destinasi wisata, program “We Love Bali” juga dirancang sebagai bentuk implementasi protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Enviroment Friendly).

“Program “We Love Bali” ini merupakan implementasi penerapan CHSE. Program ini direalisasikan sebagai bentuk dukungan kepada para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk hotel, usaha perjalanan wisata, usaha transport, pemandu wisata, restoran, daerah tujuan wisata, UMKM dan lain sebagainya,” tutur Rizki.

Bukan tanpa sebab hal itu dilakukan, pandemi telah mengubah pola perjalanan dan permintaan wisatawan saat mengunjungi destinasi wisata. “Bukan hanya atraksi, aksesibilitas dan amenitas saja, tapi standar CHSE menjadi kebutuhan baru dan sangat penting sebagai pedoman bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan ke suatu destinasi wisata,” ungkap Rizki.

Pura Alas Kedaton dan Pura Tanah Lot adalah destinasi yang juga disentuh oleh program CHSE dan dipromosikan melalui program “We Love Bali” ini. “Jadi, wisatawan tak perlu ragu dalam melakukan perjalanan wisata ke Pulau Bali karena sudah berbasis protokol CHSE. Salah satunya bisa terlihat di Pura Alas Kedaton dan Pura Tanah Lot ini. Bagaimana setiap pengunjung diwajibkan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan diimplementasikan dengan sangat baik sehingga terhindar dari paparan COVID-19,” tutur Rizki.(***)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>