Sulut Belum Optimalkan Momentum New Normal

JAKARTA – Pergerakan wisman di Sulawesi Utara (Sulut) masih merah, meski momentum transisi New Normal diberikan. Industri pariwisata Bumi Nyiur Melambai masih suram. Sebab, Pemerintah Provinsi Sulut masih menggantung tata waktu pembukaan kran wisman. Tanpa kepastian tersebut terus diulur oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey.

Pariwisata Bumi Nyiur Melambai belum memiliki arah yang pasti sepanjang masa transisi New Normal. Gubernur Sulut Olly Dondokambey belum membuat kebijakan terkait posisi pembukaan kran wisman. Padahal, pariwisata Sulut memiliki potensi alam dan budaya eksotis luar biasa. Selain Bunaken, mereka kini juga memiliki KSPN KEK Likupang.

“Kami belum bisa memastikan kapan wisman mulai berkunjung ke Sulut. Semua masih dibicarakan. Yang jelas, kami menunggu petunjuk dari pusat. Penentu kebijakan penerbangan dari pusat,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Sulut Henry Kaitjily.

Penentu kebijakan memang dari pusat. Namun, tidak ada salahnya Pemerintah Provinsi Sulut memberi opsi penawaran. Harapannya, pariwisata Bumi Nyiur Melambai seger pulih seiring pergerakan besar dari wismannya. Mengacu data BPS Sulut, pergerakan wisman pada bulan Juni 2020 hanya mencapai 267 orang saja. Mereka masuk melalui Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulut.

“Mereka yang masuk ke Sulut pasti punya Kitas. Mereka bisa saja dari Jakarta, lalu menuju Sulut. Izin kerja. Kalau mereka punya Kitas memang bisa masuk. Yang jelas, sejak pandemi Covid-19 sudah tidak ada lagi penerbangan langsung dari Tiongkok,” terang Henry lagi.

Dari jumlah 267 orang wisman, paspor Tiongkok memang dominan. Slotnya mencapai 264 orang atau 98,8%, lalu 3 nama sisanya adalah paspor Malaysia. “Wisman Tiongkok yang ke Indonesia harus punya ijin tinggal. Secara umum, pergerakan wisman di Juni bisa menjadi angin segar. Apalagi, pada Mei itu hampir tidak ada wisman yang berkunjung ke Sulut,” tegas Henry.

Rapor wisman sepanjang Juni 2020 pun masih belum bisa menaikan performa. Pergerakan sebanyak 264 orang wisman tetap terjun bebas 96,8% dari periode Juni 2019. “Sekali lagi, kami masih belum bisa memastikan kapan wisman akan datang mendekati normal di Sulut. Upaya terus dilakukan, termasuk melalui pengendalian Covid-19. Sulut terus didorong agar menjadi zona hijau Covid-19,” katanya lagi.

Pergerakan wisman menuju Bumi Nyiur Melambai dari Januari hingga Juni 2020 mencapai 14.271 orang. Sebab, sebelum tanggap darurat Covid-19, arus wisman mencapai hampir 14 Ribu orang hingga awal Maret 2020. Secara akumulasi, pergerakan wisman 14.271 orang juga menurun bila dibanding periode sama tahun sebelumnya. Dari Januari-Juni 2019, arus wisman total mencapai 61.930 orang.

“Pergerakan wisman memang masih turun. Kami berharap grafik pergerakannya bisa naik. Kalau itu terjadi, maka devisa negara akan bagus. Tapi memang, arus kunjungan wisman juga tergantung dari jumlah obyek wisatanya,” papar Kepala BPS Sulut Ateng Hartono.(***)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>