Menpar Arief Yahya Tetapkan Tiga Jurus Tindak Lanjuti FGD Borobudur

YOGYAKARTA – Berpacu dengan waktu, Menteri Pariwisata RI Arief Yahya tidak mau kehilangan momentum, untuk percepatan pengembangan Destinasi Super Prioritas Borobudur. Di closing FGD yang digelar di Yogyakarta International Airport (YIA), 18 September 2019, dia membuat 3 langkah lanjutan.

Pertama, segera merancang paket hotdeals, bundling harga buat industri 3A, Atraksi, Akses, Amenitas di Joglosemar. Meminta pelaku bisnis pariwisata untuk kompak, dengan merancang satu paket harga kompetitif khusus di low seasons. “Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar yang nge-lead!” instruksi Menpar Arief Yahya.

Apa sih program Hotdeals itu? Prinsipnya, membuat harga yang atraktif, dalam satu paket. Istilahnya, more for less, you get more you pay less. “Intinya urunan, dengan memberi diakon khusus dari masing-masing industri, baik yang bergerak di atraksi, akomodasi, akses. Semakin kompetitif harganya semakin baik,” jelasnya.

Program itu hanya harnya berlaku pada saat low seasons, misalnya Senin sampai Kamis. Jumat sampai Minggu atau kalau ada long week end, program dihentikan. Yang dijual murah adalah excess capacity, atau kamar yang secara statistik belum optimal.

“Misalnya load factor airlines hanya 50%, maka ada 50% yang tidak terjual, dari 50% itu dibuat program hotdeals, yang penting laku dulu, dengan harga murah, toh cost production nya jalan terus, isi ataupun kosong,” ungkapnya.

Contoh lain hotel, pada saat sepi pelanggan mungkin 30-50%, sisanya 70-50% kosong. Dari yang tidak terisi itu dibuat program hotdeals. Di-bundling dengan tiket pesawat dan atraksi, misalnya tiket masuk ke Taman Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

Program ini, lanjut Menpar Arief Yahya sukses di Kepri. Tahun 2017 triwulan 3 sukses uji coba dengan 100 ribu terjual di Singapore. Tahun 2018 bisa tembus 750 ribu, dan tahun 2019 ditargetkan 1 juta wisman. “Mumpung ketemu momentum, di YIA ini, program hotdeals bisa sangat strategis mempercepat jumlah wisman ke Joglosemar,” paparnya.

Kedua, Menpar Arief Yahya meminta agar FGD memperkuat aksesibilitas ke Joglosemar melalui pintu YIA ini ditindak lanjuti dengan pertemuan bulanan, saling menyampaikan progress, dengan semua stakeholder dan ekosiatem industri pariwisatanya. “Jumlahnya mungkin lebih kecil, bisa efektif, dan makin produktif karena semua persoalan bisa diselesaikan dengan baik,” tuturnya.

Ketiga, peningkatan SDM Pariwisata, dari masyarakat di sekitar bandara dan lokasi otoritatif. “Saya sekali ingatkan, agar selalu meningkatkan skill dan SDM melalui program sertifikasi, pelatihan, dan lainnya, agar mereka juga bisa bekerja, berkarya dan menerima manfaat dari kehadiran sektor pariwisata di daerahnya,” ungkap Arief Yahya.

Poin dua dan tiga itu, secara khusus Menpar Arief Yahya meminta Dirut Badan Otorita Borobudur (BOB), Indah Juanita untuk menindak lanjutinya. “Saya minta Dirut BOB menindak lanjuti,” kata Menpar Arief Yahya.

Secara khusus, Arief Yahya menjelaskan posisi BOB adalah badan yang merupakan perwakilan pusat di daerah. Ada dua tugas dan fungsi utamanya, mengelola kawasan otoritatif, dan memimpin wilayah koordinatif se Joglosemar. Di sini Badan Otorita menjadi system agregator.

Badan Otorita ini komisarisnya adalah para menteri, di bawah Menko KemaritIman, dan wakilnya Menteri Pariwisata. “Karena itu bisa berkolaborasi langsung dengan seluruh kementerian terkait untuk infrastruktur dan utilitas dasar, melalui kemenkomar,” kata dia.(*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>