Media Jepang Antusias Sambangi Museum Tsunami Aceh

BANDA ACEH – Masih ingat gempa besar yang disusul tsunami hebat yang meluluh lantahkan Aceh tahun 2004? Banyak yang dibuat penasaran. Banyak juga yang ingin menuntaskan keingin tahuannya soal gempa dahsyat dan tsunami di Aceh. Seperti halnya peserta famtrip media dari Jepang yang diboyong Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ke Aceh, Selasa (15/10).

Para awak media Jepang ini begitu antusias menyambangi Museum Tsunami serta kuburan masal para korban tsunami Aceh di Siron.

“Ini menjadi refleksi kita bersama terhadap kekuatan alam yang begitu dasyat. Apalagi Jepang pun menjadi negara dengan intensitas gempa yang banyak dan beberapa kali juga dilanda tsunami,” kata jurnalis Jepang Meguro Kazuhito, Selasa (15/10).

Sesampainya di Museum Tsunami mereka langsung begitu serius mendengarkan setiap detail kejadian. Rangkaian berbagai benda-benda peninggalan yang tersapu tsunami terpampang jelas. Ada perkakas, kendaraan bermotor, Alquran, hingga helikopter polisi yang hancur tersapu tsunami.

Ditempat ini, hal-hal yang di luar perkiraan akhirnya bisa dilihat wisatawan. Dan bagai mana masyarakat Aceh bisa tegar membangun kembali daerahnya.

“Kini, pesona destinasi tsunami heritage menjadi salah satu andalan pariwisata Aceh. Destinasi-destinasi ini mengajak wisatawan untuk kembali mengingat bencana dahsyat yang sempat meluluh lantakkan Bumi Serambi Mekah itu. Bahkan, tahun 2016, Aceh ikut mendonasikan dua dari 12 gelar juara dunia yang disambar Indonesia di World Halal Tourism Award 2016 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab,” ujar kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran II Regional II Kemenpar Ardi Hermawan pun sependapat. Makanya famtrip media Jepang kali ini sengaja diajak menyusuri Aceh. Dipilihnya Museum Aceh untuk dikunjungi juga bukan tanpa sebab. Karena Museum tsunami menjadi etalase lengkap berbagai peninggalan kekuatan tsunami Aceh.

“Warga Jepang itu sudah sangat mengenal tsunami. Maka dari itu kita ajak para media Jepang ini mengetahui kedasyatan tsunami yang terjadi di Aceh 15 tahun silam,” kata Ardi.

Bencana mendatangkan berkah. Mungkin itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan berbagai destinasi peninggalan tsunaminyang kini menjadi unggulan pariwisata Aceh. Meski telah 15 tahun berlalu, peristiwa pahit tersebut masih terekam jelas dalam kenangan. Namun setelah bencana besar tersebut, pemerintah dan masyarakat Aceh tak berputus asa. Mereka bahu-membahu membangun kembali Aceh.

“Memory Tourism” bisa menjadi media efektif dalam memperlihatkan kepada masyarakat global tentang kekuatan, ketahanan dan ketabahan masyarakat Aceh. Aceh telah bangkit. Dan pariwisata siap menjadi tulang punggung perekonomian Aceh. Jadi jangan lupa untuk menjadwalkan liburan Anda ke Bumi Serambi Mekah,” pungkas Arief Yahya. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>