Kementan Apresiasi Amator Sebagai Inovasi Teknologi Pertanian Modern

JAKARTA – Dalam acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 18, Selasa (3/8/2021), Kementerian Pertanian memberikan apresiasi kepada Amator. Pasalnya, Amator menghadirkan inovasi teknologi modern untuk pertanian.

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pertanian modern merupakan praktik pertanian yang menggunakan ilmu dan teknologi terkini.

“Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses sekaligus mengurangi input sumber daya alam seperti lahan, air, dan energi,” katanya.

Mentan SYL menegaskan, hal ini sejalan dengan tagline pertanian Indonesia yaitu maju, mandiri, dan modern.

“Pertanian kita saat ini mengarah pada industri 4.0 yang ditandai dengan digitalisasi pertanian. Tanda lainnya adalah penggunaan mekanisasi alat-alat mesin pertanian. Maka, petani dan penyuluh harus ditingkatkan kapasitasnya agar beradaptasi dengan teknologi pertanian,” ujar Mentan SYL.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi,  mengatakan bahwa pertanian modern dicirikan dengan beberapa hal.

Diantaranya adalah pemanfaatan varietas unggul, pemanfaatan alat mesin pertanian, pemanfaatan internet opting, big data, digitalisasi pertanian dan lain sebagainya.

Maka, para penyuluh dan petani harus terus ditingkatkan lagi kapasitasnya agar bisa mengimplementasikan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan kemajuan pertanian Indonesia.

“Penyuluh adalah ujung tombak pertanian kita. Kalau kita mau kembali jaya, mau kembali swasembada beras, maka tidak ada kata lain petani dan penyuluh harus terus kita tingkatkan kapasitasnya,” tegas Dedi.

Dalam acara Ngobras yang dilakukan secara virtual, Penyuluh Pertanian BPP Air Salak Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, Raharjo, yang menjadi Narasumber, menjelaskan bahwa demplot Atabela (Alat Tanam benih Langsung) timbul ide untuk memadukan Atabela dengan Hand Traktor.

Setelah meminta ijin dan diskusi dengan BPTP dan membuat gambar sederhana, Raharjo membawa Atabela ke Bengkel dan memodifikasi Atabela Tipe Bali Pemberian BPTP tersebut.

“Akhirnya terbentuklah Atabela yang penggunaannya tidak lagi ditarik manusia, tapi dengan tenaga Hand Traktor. Jadi tidak perlu ditarik atau didorong manual lagi dan Amator singkatan dari Atabela Modifikasi Traktor,” ungkap Raharjo.

Secara rinci Raharjo menjelaskan kelebihan dari Amator diantaranya hanya dengan menggunakan tenaga kerja sebanyak 2 orang untuk penanaman seluas 1 hektar dengan memakan waktu kurang lebih 2 jam (tergantung kondisi dan tipe Amator) dan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 200.000,-.

Selain itu penggunaan benih hanya 30-50 kg/ha (tergantung sistem tanam) lebih hemat dari cara tradisional (tabur) yang  mencapai 60-120 kg/ha. Pengoperasian Amator juga sangat praktis yaitu cukup ditarik dengan traktor, baik roda 2 maupun Roda 4.

Amator juga memudahkan pemeliharaan tanaman, terutama untuk pengendalian gulma yang dapat mengurangi dosis penggunaan herbisida (tidak terjadi overlap) dan dimungkinkan pengendalian dengan cara mekanis.

Dengan jarak tanam yang dapat diatur baik sistem larikan biasa ataupun dengan sistem jarwo, populasi tanaman dalam satuan luas tertentu lebih banyak dibandingkan cara tanam pindah, sehingga tanaman tidak mengalami stres, karena tidak dipindah seperti halnya tanam pindah, sedangkan untuk sistem tanam jarwo, semua baris menjadi tanaman pinggir.

“Dari hasil pengkajian menunjukkan bahwa produksi varietas padi yang ditanam dengan Atabela lebih tinggi (0,7 – 1,5 ton gabah kering panen) dibandingkan dengan cara tanam konvensional. Selain padi, Amator juga bisa untuk menanam kedelai,” terangnya. (HVY/NF)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>