Dicubit SARA, Tokoh Agama Se Banyuwangi Justru Makin Solid

BANYUWANGI – Luar biasa soliditas masyarakat, tokoh lintas agama, pengamat, budayawan, sejarawan, komunitas, pemerintah, akademisi, pelaku industri dan media di Banyuwangi. Saat ada yang usil dan coba-coba mengobok-obok dengan isu SARA, mereka langsung bereaksi, solid. Tentu dengan gaya kesantunan dan saluran masing-masing. Salut.

Apalagi dua tokoh Banyuwangi yang diblack campaigne, dibuat narasi hoax itu adalah Bupati Azwar Anas dan Menpar Arief Yahya. Lalu agama yang dijadikan martil untuk berseteru adalah Islam dan Hindu. Sukunya, Jawa, Madura, dan Osing. Dan pintu masuk isunya dari Halal Tourism dan pariwisata secara umum dengan tudingan Arabisasi.

Respons netizen tentu lebih reaktif, dengan gaya bahasa dan caranya sendiri di media sosial. Akademisi menggunakan penjelasan yang lebih mendalam melalui online media. Pemerintah tetap cool, dan terus mengikuti perkembangan tulisan hoax itu.

Beruntung, masyarakat Banyuwangi sudah sangat dewasa menyikapi polemik yang tidak menguntungkan itu. Sejumlah tokoh lintas agama dan budayawan Banyuwangi, Sabtu 29 Juni 2019 ini langsung menggelar pertemuan.

Ibarat dicubit dengan isu SARA, tentu para tokoh agama itulah yang paling merasakan sakitnya. Tugas mereka menjadi lebih ekstra, mensosialisasikan kembali makna hidup bertoleransi dan meluruskan isu yang tidak menyenangkan itu. Tetapi, justru itu menguatkan rasa persatuan dan toleransi mereka.

Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH Nur Khozin menyebut pengembangan pariwisata halal di Banyuwangi sama sekali jauh dari Arabisasi. Dia menyesalkan isu yang tidak bertanggung jawab ini muncul dan membuat keruh suasana.

“Arabisasi itu berarti menerapkan budaya Arab. Di Banyuwangi tidak ada seperti itu,” ujarnya saat konferensi pers di Rumah Adat Suku Osing yang terletak di Pendopo Banyuwangi, Sabtu (29/6).

Perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang Sudira mengatakan, pengembangan wisata dan kebudayaan di Banyuwangi telah berjalan dengan sangat baik dan menghargai keberagaman. Seni-budaya berbasis kearifan lokal Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) digelar rutin dan semarak.

“Sampai saat ini, tidak saya temukan upaya untuk memaksakan nilai-nilai agama tertentu yang dapat merusak keberagaman yang ada. Apalagi dalam hal kebudayaan dan kesenian,” terangnya.

Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Banyuwangi Pendeta Anang Sugeng Sulistiyo mengatakan, kebudayaan dan kesenian yang berkembang dari suku Osing selama ini berlaku universal. Dia mencontohkan Tari Gandrung yang tak hanya ditarikan warga beragama tertentu. Anak-anak muda lintas agama juga menarikannya dalam berbagai festival seni yang ada di Banyuwangi.

“Semua agama bisa menarikannya. Baik muslim, Hindu, Kristen, Budha dan lainnya, semuanya bisa menarikannya. Jadi, tak ada pemaksaan sebagaimana yang dituduhkan dengan istilah arabisasi itu,” tutur Pendeta Anang.

Sejumlah budayawan juga menolak tuduhan arabisasi terhadap pariwisata di Banyuwangi. Apalagi tuduhan tersebut hanya berdasarkan potongan informasi yang tak lengkap, bahkan cenderung memelintir.

“Jika diamati, tuduhan miring yang disematkan kepada pariwisata Banyuwangi ini dilakukan oleh orang luar Banyuwangi. Yang saya yakin, dia tidak tahu benar dengan kenyataan yang ada,” ungkap budayawan Banyuwangi Samsudin Adlawi.

Bahkan, tambah Samsudin, sejumlah foto dan narasi yang dibangun untuk melegitimasi tuduhan arabisasi itu hanya berdasarkan prasangka. “Menyebut suku Osing dan kebudayaannya itu sebagai Hindu adalah tuduhan yang buta sejarah dan tak faktual,” tegas mantan ketua Dewan Kesenian Blambangan tersebut.

Samsudin meminta tak ada upaya memecah belah kerukunan di Banyuwangi. Dia menyebut tulisan yang menuding ada Arabisasi terhadap umat Hindu di Banyuwangi adalah upaya mengadu domba. “Tapi itu tidak akan berhasil karena semua orang mengetahui betapa keberagaman dan kearifan lokal di Banyuwangi ini dirawat dan dirayakan, bukan dihilangkan,” ujarnya.

Pengembangan destinasi wisata halal, imbuh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, tak lebih dari strategi pemasaran saja. Pangsa pasar wisata halal di dunia terus mengalami kenaikan. Pasar inilah yang kini coba dibidik oleh Banyuwangi.

“Halal tourism selama ini terus meningkat trendnya. Bahkan, di negara-negara yang notabenenya orang muslim bukan mayoritas, wisata halalnya sangat maju. Sementara itu, kita yang merupakan negara dengan mayoritas penduduknya muslim, jauh tertinggal,” ungkap Anas.

Ceruk pasar tersebut yang coba diambil oleh dunia wisata di Banyuwangi. Dengan branding halal tourism diharapkan mampu menarik peminat wisata halal ke ujung timur pulau Jawa ini.

“Banyuwangi sendiri, sebenarnya, wisatanya sudah memenuhi standarisasi halal tourism. Hampir semua wisata, ada tempat ibadahnya. Makanannya pun makanan halal. Jadi, halal tourism ini bukan soal arabisasi, tapi soal promosi dan segmentasi pasar sana. Urusan komersial untuk mendatangkan wisatawan, tidak lebih, dan jelas bukan Arabisasi,” tegas Anas.

Pertemuan tersebut juga diikuti Ketua I Forum Kerukunan Umat Beragama, budayawan senior Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, serta sejumlah tokoh budaya lainnya seperti Taufiq Hidayat dan Budianto.(***)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>