2021 Kementan Cetak 2.000 Petani Milenial, 1.000 Orang Dikirim ke Jepang

CIAMIS – Kementerian Pertanian (Kementan) begitu serius menggenjot pertumbuhan petani milenial. Dalam rangka itu, pada tahun depan Kementan akan mengirim seribu petani milenial untuk magang di Jepang. Sebab, petani milenial merupakan ujung tombak regenerasi yang akan meneruskan sektor pertanian di Indonesia.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memang amat concern terhadap bertumbuhnya petani milenial. Bahkan hingga lima tahun ke depan Mentan SYL menarget 2,5 juta petani milenial di seluruh Indonesia.

Hal itu melihat kondisi saat ini di mana perkembangan di dunia pertanian semakin maju. “Saya mempersiapkan kurang lebih 2.5 juta petani milenial dalam lima tahun ini,” kata Mentan SYL. Mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu mengatakan bahwa keinginan itu lahir lantaran saat ini ada sejumlah petani yang ada di Indonesia, bisa menghasilkan uang hingga puluhan juta rupiah. Menurutnya, dengan perkembangan teknologi pertanian sekarang ini, siapapun bisa menjadi petani. Di era sekarang ini pola pertanian sudah berbeda dengan pola kerja petani di masa dulu. “Dengan kecanggihan sains, riset, dan teknologi tidak lagi mengharuskan petani terjun ke lumpur. Kakinya tidak lagi kotor karena lumpur,” jelasnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menjabarkan lebih detail mengenai program cetak petani milenial. Menurutnya, seribu petani milenial yang dikirim ke Jepang merupakan program kerja sama dengan berbagai macam stakeholder yang memiliki concern di sektor pertanian. “Seribu petani milenial akan kita kirim untuk magang di Jepang. Kita kerjasamakan dengan berbagai macam stakeholder,” kata Dedi Nursyamsi saat melakukan kunjungan kerja ke Kostratani Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (30/12/2020).

Selain mengirim seribu petani milenial untuk magang di Jepang, Dedi juga menjelaskan jika Kementan akan merekrut seribu petani untuk diberi pelatihan di Ciawi. “Nantinya setelah dilatih dia langsung mendapatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Ini cara kita untuk menjawab kebutuhan regenerasi petani. Mau tidak mau, siap tidak siap harus kita lakukan hari ini juga,” tuturnya.

Diakui Dedi saat ini jumlah petani milenial Indonesia masih terbilang minim. Namun, kualitasnya sudah bisa dilihat di mana petani milenial mampu menguasai pasar dari hulu hingga hilir. Petani milenial juga cenderung adaptif dengan perkembangan teknologi. “Jumlah petani milenial kita sejumlah 29 persen. Tapi dia menguasai sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Dia juga mengubah pola pertanian kita menjadi sektor mandiri, profesional dan modern yang melakukan pemasaran produknya menggunakan teknologi,” terang Dedi.

Kendati begitu, sebelum mencetak petani milenial yang harus dilakukan pertama kali adalah melakukan transformasi pertanian dari yang awalnya hanya sekadar memenuhi kebutuhan belaka menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan.

“Kalau sudah begitu niatnya sudah harus jelas orientasinya adalah bisnis yang menghasilkan uang. Di luar negeri di Taiwan, Jepang, Korea petani sudah bisa menghitung kalau menanam hortikultura di areal seluas satu hektar, maka dia akan mendapatkan uang sekian. Karena dia sudah ada jaringan pemasarannya. Artinya, kita harus menguasai pasar,” tegas Dedi.

Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) merupakan sarana untuk mencetak petani andal dan profesional di bidangnya. Inovasi berbasis teknologi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari Kostratani. “Kostratani ini sarana mengubah pola pertanian kita dari tradisional menjadi mandiri, profesional dan modern serta siap bersaing di era industri 4.0 yang mengandalkan teknologi,” kata Dedi.

Yang terpenting di tengah pandemi COVID-19 saat ini adalah tetap menjaga semangat untuk tetap fokus pada sektor pertanian. “Semuanya semangat dan optimis. Semangat ada di tangan, 80 persen keberhasilan ada di genggaman kita. Dengan semangat, jaminan ketersediaan pangan ada di genggaman kita,” ucapnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>